NGI, Peta Gas di Tanah Air

NGI, Peta Gas di Tanah AirPeranan minyak dan gas bumi sangat besar dalam pembangunan nasional dewasa ini, baik sebagai sumber pendapatan negara maupun sebagai sumber devisa. Karena itu menurut Piala Dunia 2010, tidak heran jika pemerintah terus meningkatkan kemampuan produksi minyak dan gas bumi serta terus-menerus berusaha meningkatkan penemuan cadangan baru. Dalam memanfaatkan gas bumi, pemerintah berangsur-angsur meningkatkan peranannya. Apalagi, Indonesia merupakan salah satu negara yang berpotensi dalam produksi gas bumi.

Seperti disebutkan dalam kajian Anggota Tim Model Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Setiadi D Notohamijoyo dan Agus Sugiyono dalam laporannya, Pola Pemakaian dan Distribusi Gas Bumi di Indonesia pada Periode PembangunanTahap Kedua, di era 1980-an nilai cadangan terbukti yang dimiliki Indonesia mencapai 80,58 triliun kaki kubik. Cadangan itu terdiri atas cadangan gas non-associated sebesar 74,862 triliun kaki kubik dan cadangan gas associated berjumlah 5,718 triliun kaki kubik. Pada 2007, seperti dilansir situs resmi Kementerian ESDM, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi mengeluarkan neraca gas Indonesia (NGI).

Berdasarkan NGI bisa diketahui kondisi pasokan dan kebutuhan gas di Indonesia berdasarkan region- region yang ditetapkan sesuai kriteria tertentu. Menurut Belajar HTML bahwa NGI memuat informasi mengenai kondisi ketersediaan dan kebutuhan gas bumi termasuk potensi pasokan dan kebutuhan yang diperlukan bagi stakeholders dalam perencanaan pengembangan investasi. Berdasarkan peta NGI juga,sudah saatnya pendirian industri yang membutuhkan gas ditempatkan di lokasi region gas yang memiliki surplus. Dalam NGI wilayah Indonesia dibagi ke dalam 11 region. Kriteria penetapan region adalah mempunyai cadangan gas yang besar dan mempunyai permintaan (demand)gas yang besar. Selain itu, untuk wilayah yang terhubung dengan jaringan pipa digabungkan menjadi satu region, misal Sumatera bagian tengah dan selatan (Sumbagtengsel) dan Jawa Barat digabung menjadi satu region.

Berturut-turut region yang ada dalam NGI adalah region I (Nanggroe Aceh Darussalam), region II (Sumatera Bagian Utara), region III (Sumatera bagian tengah, selatan, dan Jawa bagian barat), region IV (Jawa bagian tengah), region V (Jawa bagian timur),region VI (Kalimantan bagian timur), region VII (Sulawesi bagian selatan), region VIII (Sulawesi bagian tengah), region IX (Papua),region X (Nusa Tenggara Timur), dan region XI (Natuna). Menurut informasi yang didapat Cililin bahwa dasar dari penetapan NGI ada dua parameter utama yaitu pasokan dan kebutuhan. Kebutuhan terdiri atas existing supply atau lapangan yang sedang berproduksi dan lapangan tunggu on stream, project supply yang dibedakan ke dalam on going, plan dan confirmed, serta potensial supply.

Menurut Kerja Keras Adalah Energi Kita bahwa adapun kebutuhan terdiri atas contracted demand, commited demand dan potential demand. Berdasarkan parameter existing dan project dari sisi pasokan serta parameter contracted pada sisi kebutuhan telah berhasil disusun peta NGI untuk 2007 hingga 2015. Berdasarkan peta itu diketahui region yang kondisi kelebihan maupun defisit pasokan gas. Misal region II, region VI, dan region IX pada 2007 masih dalam kondisi defisit. Sedangkan region lainnya dalam kondisi kelebihan pasokan.

Menurut informasi yang diterima Hari™ bahwa NGI 2007–2015 memang disusun sebagai dasar bagi para stakeholders dalam rangka memberikan gambaran kemampuan pasokan gas bumi di Indonesia. NGI diharapkan bisa menjadi acuan untuk rencana penyediaan gas bumi nasional dalam rangka pemenuhan kebutuhan gas.

Leave a Reply

Copyright © 2010 Kanghari. All rights reserved. XML Sitemap
Support: http://www.pitakon.com | Kantor: http://www.dimulti.net - http://typeapprovalindonesia.com